Bagaimana Anda Mengetahui Status Gizi Anak Anda ?

Ada beberapa cara mengukur status gizi balita, yaitu dengan pengukuran antropometrik, klinik dan laboratorium. Diantara ketiganya, pengukuran antropometrik adalah yang relatif paling sederhana dan banyak dilakukan.

Pengukuran klinik biasanya dilakukan oleh dokter ahli di klinik untuk melihat adanya kelainan-kelainan organ tubuh akibat  KEP,  misalnya  adanya  pembengkakan (oedema), perubahan  warna dan  sifat rambut, kelainan kulit dan sebagainya.

Sedangkan pengukuran laboratorik dilakukan pemeriksaan darah dan urine,  untuk mengetahui adanya kelainan kimiawi darah dan urine akibat KEP. Adakalanya ketiga pengukuran tersebut dilakukan untuk saling mendukung dan meyakinkan   hasil pengukuran yang satu dengan yang lain

Di  Indonesia  pengukuran  antropometrik  banyak  dilakukan  dalam  kegiatan program  maupun  dalam  penelitian.  Masing-masing  indeks  antropometri  yaitu  Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) memiliki buku rujukan atau nilai patokan untuk memperkirakan  status  gizi  balita.  Sampai  sekarang  ada  beberapa  kegiatan  penilaian status gizi yang dilakukan, adalah kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG), kegiatan bulan penimbangan menggunakan jenis pengukuran antopometrik

Pengukuran status gizi balita berdasarkan antropometri adalah jenis pengukuran dimensi tubuh dalam komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi yang dapat dilakukan terhadap BB, TB dan Lingkar Kepala (LK) serta Lemak di Bawah Kulit (LBK).

a. Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Indeks BB/U menggambarkan secara sensitif status gizi saat ini (saat diukur) karena  mudah  berubah.  Indeks  BB/U  dapat  normal  (gizi  baik),  lebih  rendah  (gizi kurang)  atau  lebih  tinggi  (gizi  lebih)  setelah  dibandingkan  dengan  standar  WHO-NCHS. Penggunaan indeks BB/U sebagai indikator penilaian status gizi  memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu mendapat perhatian.

Kelebihan pemakaian Indeks BB/U, yaitu :

1)      Dapat dengan mudah dimengerti oleh masyarakat umum.

2)      Sensitif untuk melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu yang pendek.

3)      Dapat mendeteksi kegemukan.

Kelemahan indeks BB/U adalah:

1)      Interpretasi status gizi dapat keliru apabila terdapat pembengkakan (oedema).

2)      Kadang umur secara akurat sulit didapat.

3)      Sering terjadi salah pengukuran (growth monitoring).

4)      Masalah sosial budaya setempat yang mempengaruhi orang tua untuk tidak mau menimbang anaknya.

b. Indeks Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Hasil pengukuran  TB/U menggambarkan status gizi masa lalu. Balita yang diukur  dengan TB/U dapat dinyatakan TB normal, kurang dan tinggi. Bagi yang TB/U kurang menurut WHO-NCHS dikategorikan sebagai stunted atau pendek tidak sesuai dengan umurnya (PTSU). Berbeda dengan BB/U yang mungkin dapat diperbaiki dalam waktu pendek, baik pada anak maupun dewasa. PTSU pada dewasa tidak dapat lagi dinormalkan.

Kelebihan pemakaian indeks TB/U, yaitu :

1)      Dapat memberikan gambaran riwayat keadaan gizi masa lampau.

2)      Dapat dijadikan indikator keadaan sosial ekonomi penduduk

Kelemahan pemakaian indeks TB/U, yaitu :

1)      Kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang badan/tinggi badan.

1)      Tidak dapat menggambarkan keadaan gizi saat ini.

2)      Kadang umur secara akurat sulit didapat

3)      Kesalahan  sering  terjadi  pada  pembacaan  skala  ukur,  terutama  bila  dilakukan oleh petugas non-profesional

c. Indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Pengukuran antropometri yang terbaik adalah menggunakan indikator BB/TB. Ukuran  ini  dapat  menggambarkan  status  gizi  saat  ini  dengan  lebih  sensitif  dan spesifik. Artinya mereka yang BB/TB kurang dikategorikan sebagai “kurus” (wasted).

Kelebihan pemakaian indeks BB/TB, yaitu :

1)      Independen terhadap “umur” dan “ras”.

2)      Dapat  menilai  status  “kurus”  dan  “gemuk”  dan  keadaan  marasmus  atau  KEP berat lain.

Kelemahan pemakaian indeks BB/TB, yaitu :

1)      Kesulitan dalam melakukan pengukuran kelompok usia balita.

2)      Kesalahan  dalam  pembacaan  skala  ukur,  terutama  bila  dilakukan  oleh  petugas non-profesional.

3)      Tidak  dapat  memberikan  gambaran  apakah  anak  tersebut  pendek,  normal  atau jangkung.

4)      Masalah sosial budaya setempat yang mempengaruhi orang tua mau menimbang anaknya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s